16 Tahun, dengan Semangat Pemberani, Demokrat Bangkit Kembali

Oleh: Ferdinand Hutahaean*)

Tepat 16 tahun lalu, 9 September 2001, Partai Demokrat lahir sebagai partai baru yang meramaikan kancah perpolitikan nasional. Di bawah doa dan harapan serta ucapan syukur, tangan dingin Susilo Bambang Yudhoyono, di tengah kondisi bangsa yang sedang tidak sehat akibat badai krisis yang menghantam 1997, Partai Demokrat kemudian dideklarasikan dipimpin langsung Susilo Bambang Yudhoyono. Kini, 16 tahun sudah Partai Demokrat, esok tanggal 9 September 2017 menjadi hari peringatan kelahiran Partai Demokrat yang ke-16, sekaligus pemantapan diri sebagai partai yang akan kembali membawa bangsa Indonesia menuju kesejahteraan.

Pemilu 2004, rakyat memberikan kepercayaan besar kepada Susilo Bambang Yudhoyono setelah mengalahkan Megawati Soekarno Putri dengan kemenangan telak yaitu 60,92% atau sebesar 69 Juta lebih suara. Megawati kala itu adalah Calon Presiden Petahana, wanita pertama yang menjadi presiden bukan karena pilihan rakyat, namun karena menerima tampuk kepemimpinan dari DPR MPR pasca diberhentikannya Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI ke-4. SBY menerima warisan negara dengan kondisi tidak baik, Ratio Hutang dengan PDB sebesar 56,6%, Angka Kemiskinan 19,1%, Angka Penganguran sebsar 8,1% , Ratio Hutang Luar Negeri 27,8% APBN, Pendapatan per kapita yang rendah sekitar Rp.5,39 Juta dan indikator ekonomi politik serta hukum yang tidak baik.

Kemenangan tersebut kemudian diteruskan pada Pemilu 2009 dengan mengalahkan pasangan Megawati Soekarno Putri dan pasangan Wiranto sebesar 60,80% atau sebesar 73 juta lebih suara. Itulah kebesaran Susilo Bambang Yudhoyono bersama Partai Demokrat yang juga menghantarkan Partai Demokrat ke peringkat pertama Pemilu 2009 dengan perolehan suara 20,85% atau sekitar 21 Juta suara lebih. Dan akhir pemerintahannya, semua indikator sangat baik, ekonomi politik hukum meningkat drastis diwariskan kepada Presiden RI ke-7 Joko Widodo. Ratio Hutang terhadap PDB turun ke angka 24,7%, Angka kKemiskinan turun menjadi 11,47%, Pengangguran turun menjadi 5,7% , Pendapatan Per Kapita naik menjadi Rp.36,5 Juta, Ratio Hutang Luar Negeri turun menjadi 7,8% APBN, serta peningkatan APBN sebesar 400%.

Dalam perjalanan kebesaran Partai Demokrat tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa kemudian menjadi banyak kader yang lupa diri dan tidak mampu menjaga amanah rakyat. Beberapa oknum-oknum kader partai kemudian jatuh ke dalam jurang korupsi yang berakibat fatal, di mana Partai Demokrat dihujani hujatan dari publik sebagai partai Korup dan berujung pada hancurnya perolehan suara Demokrat pada Pemilu 2014. Demokrat terjatuh, tertinggal karena ulah oknum kader yang tidak amanah. Situasi tersebut memaksa Susilo Bambang Yudhoyono harus kembali turun gunung untuk memipin Partai Demokrat, tertatih untuk mengembalikan kepercayaan rakyat kepada Partai Demokrat. Bersama soerang figur yang tak pernah kenal lelah dan tak pernah berhenti, SBY memilih memberikan dan mengamanatkan kepercayaannya kepada Sekjen Hinca Pandjaitan. Sebuah kolaborasi kepemimpinan yang saling sinergi, saling topang, saling dukung antara pemikir dan eksekutor. Klop, Demokrat mulai nyaring kembali bersuara di kancah perpolitikan nasional.

Di usia yang ke-16 ini, Demokrat terus berbenah diri, mengejar ketertinggalan, bangkit kembali bersama membangun Indonesia yang sejahtera. Kondisi tahun 2004, kini terulang. Menjelang Pemilu 2019 kondisi negara identik situasinya dengan kondisi 2004 silam, dimana Demokrat datang menjadi solusi bagi negara dan menyelesaikan berbagai masalah bangsa, baik masalah ekonomi, politik, hukum dan berbagi konflik daerah seperti Aceh, Poso, Maluku, Kalimantan, dan lain sebagainya. Momentum kembali datang bagi Partai Demokrat untuk bangkit, untuk kembali membawa solusi bagi masalah bangsa, dan Demokrat datang mengambil momentum bersama calaon pemimpin masa depan Agus Harimurti Yudhoyono. Seluruh permasalahan rakyat diantaranya penurunan daya beli, peningkatan angka kemiskinan, peningkatan angka pengangguran, penuruan pendapatan per kapita, ketimpangan ekonomi yang semakin besar, kesulitan lapangan kerja, semua identik dengan kondisi 2004 silam. Inilah momentum bagi Demokrat. Peduli dan beri solusi.

Partai Demokrat adalah partai yang tidak perlu diajari lagi tentang Pancasila, tidak perlu diajari lagi menghormat Merah Putih, tidak perlu digurui lagi tentang toleransi. Partai Demokrat sudah membuktikan itu sejak lahirnya, Manifesto Demokrat, Hymne Parta Demokrat, Mars Partai Demokrat, seluruhnya mencerminkan dan menegaskan sikap tentang Pancasila, tentang nasionalisme, tentang toleransi dan tentang Ketuhanan. Manifesto Partai Demokrat secara tegas menyebutkan Pancasila sebagai landasan partai, tidak ada ideologi lain bagi Demokrat selain Pancasila. Maka akan menjadi aneh dan lucu jika ada orang lain atau partai lain yang mau mengajari Partai Demokrat tentang Pancasila dan toleransi. Partai Demokrat adalah tempatnya orang belajar Pancasila dan belajar toleransi, karena Partai Demokrat telah mengamalkan Pancasila dan toleransi secara baik dan benar.

Tidak ada napas lain bagi Demokrat, karena putra-putri Demokrat hanya mendamba kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk mengawal dan mengamalkan Pancasila, serta berjuang dan bekerja menuju cita luhur Negara Kesatuan Republik Indonesia. Setidaknya itu tercermin dalam Hymne Partai Demokrat. Partai Demokrat adalah partai yang dilahirkan untuk membawa pesan damai dan membawa berkat rahmat Ilahi untuk seluruh negeri. Dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia akan sentosa. Itulah cita-cita luhur yang diperjuangkan Partai Demokrat.

Tidak ada lagi waktu berleha-leha bagi seluruh kader Demokrat. Saatnya sekarang kita tampil berani menyatakan kebenaran, saatnya sekarang Partai Demokrat tampil berani memperjuangkan kepentingan rakyat, saatnya sekarang Partai Dmokrat berani menanggalkan kepentingan pribadi demi kepentingan bangsa dan negara yang kita cintai. Momentum harus diambil, yang sudah dibangun oleh SBY 10 tahun kini tampak layu, negeri tampak lusuh. Partai Demokrat di mana pun berada harus keluar dari ego yang membungkus, buang kepentingan pribadi, turunlah dan mendekat kepada rakyat. Sapa rakyat, ajak yang tertinggal, kumpulkan yang tercerai berai, satukan kekuatan, gelorakan keberanian untuk melawan kemimskinan, melawan ketimpangan dan melawan ketidakadilan. 2019, Demokrat harus kembali menyirami tanah nusantara yang kini gersang, menyuburkan kembali bumi pertiwi, supaya tumbuh menjadi bangsa yaag kuat, jaya, makmur dan sentosa.

Beranikah kita melupakan kepentingan diri..? Beranikah kita menjadi solusi bagi rakyat..? Tentu berani karena Kader Partai Demokrat adalah putra-putri bangsa yang pemberani. Berani untuk maju, berani untuk kepentingan bangsa dan negara.

Jayalah Demokrat… Menjadi partai pemberani, berani untuk menang, berani untuk membela rakyat, berani untuk sejahterkan bangsa, berani menjaga toleransi, berani mengawal Pancasila, berani berkorban untuk Indonesia.

Dirgahayu ke-16 Partai Demokrat…! Teruslah berdiri menjaga Merah Putih, karena di mana Merah Putih derkibar, di situ panji Demokrat berkibar sebagai pengawal dan penjaga Merah Putih…!

Jakarta, 09 September 2017

*)Komunikator Politik Partai Demokrat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *